Shopaholic adalah kata yang berasal dari shop yang berarti belanja, dan aholic yang menandakan bahwa kebiasaan ini adalah suatu ketergantungan terhadap hal yang dilakukan dengan sadar atau tidak.

Jadi, shopaholic adalah sebutan umum dari setiap orang yang mempunyai kebiasaan belanja secara kontinu (terus menerus). Seorang shopaholic biasanya melakukan kebiasaan ini tanpa disadarinya. Dia akan mengaku suka dan pengkoleksi barang-barang yang sama, namun sebenarnya ini adalah gejala awal dari seorang pecandu belanja.

Meskipun para ahli mengatakan bahwa 90 persen dari shopaholic adalah wanita, tapi sebenarnya pria juga bisa ‘terjangkit’ penyakit ini. Sebagian besar dari lelaki tidak mau mengakui, tapi mereka berdalih kebiasaan berbelanja hanya sebagai hobi untuk dikoleksi. Misalnya, belanja telepon genggam, laptop, MP3 player, barang otomotif dan lainnya.

Bagi wanita yang kecanduan belanja, mereka menggunakan inisiatif melakukan kegiatan berbelanja untuk melupakan kesedihan atau menghilangkan rasa suntuk. Tapi, cara itu hanya penyembuhan jangka pendek dan justru makin membuat para perempuan tersebut tertekan. Apalagi berbelanja dengan menggunakan kartu kredit, akan membuat wanita gila belanja semakin menumpukkan hutangnya.

Seperti yang dialami salah satu pegawai bank swasta di Jalan Imam Bonjol Medan, Puspita Sari. Perempuan yang baru menikah dan tinggal di Kompleks Tasbih, Jalan Setiabudi Medan ini mengaku tidak bisa mengontrol kegiatan belanjanya. Padahal, belanjaan yang dibelinya belum terlalu dibutuhkan. Kegemaran belanja membuat ia dan suami yang juga berkerja di bank milik BUMN sering bertengkar. “Saya belanja menggunakan kartu kredit. Rasanya saya tidak mampu mencegah keinginan untuk berbelanja. Otak saya rasanya terus memerintahkan saya untuk belanja dan belanja. Kalau tidak belanja sehari, rasanya ada yang tak enak di diri saya,” ujar wanita yang akrab dipanggil Puput ini.

Puput mengakui, akibat kegemerannya belanja, ia pernah menghabiskan belanja dalam sebulan sebesar Rp25 juta menggunakan kartu kredit. “Padahal yang saya beli adalah barang-barang yang belum dibutuhkan. Paling mahal adalah membeli parfum, alat rias, sepatu, baju, perhiasan dan lainnya. Padahal barang-barang itu saya sudah punya banyak,” ujar Puput.

Hal ini diakui suaminya, Ari. “Waktu masih pacaran, saya tidak terlalu paham soal belanja perempuan. Saya pikir perempuan memang suka belanja. Tapi lama-lama setelah kami menikah, kok belanjanya jadi gila-gilaan. Gaji pun jadi habis nutup hutang kartu kredit,” aku Ari sambil melirik istrinya, Puput.

Psikolog, Indah Kumala Hasibuan menganggapi, kemudahan seseorang mendapatkan kartu kredit serta ramainya pusat-pusat perbelanjaan, telah menimbulkan satu penyakit baru yang disebut shopaholic atau gila belanja.

“Bila tidak dikendalikan sejak dini, penyakit itu tidak hanya menggerogoti keuangan rumah tangga, tetapi membuat penderitanya jatuh miskin,” ujar wanita yang membuka biro konseling khusus persoalan rumah tangga ini.

Kebiasaan ini banyak menyebabkan pernikahan hancur karena salah satu pasangannya mempunyai kebiasaan buruk ini. “Para ahli yakin bahwa kebiasaan ini adalah penyakit mental, bukan hanya sekadar hobi sesaat. Kebiasaan ini bahkan bisa berdampak sama atau mungkin malah lebih buruk jika dibandingkan dengan seorang pecandu alkohol, obat-obatan, ataupun berjudi,” kata Indah.

Disebutkannya, ketergantungan akan belanja sama halnya seorang alcoholic yang dulunya mulai minum karena pengaruh sosial dan ajakan teman saja, tapi kemudian menjadi rutinitas dan kebiasaan yang akhirnya menimbulkan dampak buruk. Sudah bisa diduga gaya hidup sang pencandu mulai tidak terkontrol.

Menurut Indah, keinginan dan kebutuhan adalah dua hal yang sangat berbeda. Tapi sayang sekali keduanya sulit dibedakan oleh pecandu shopping. Bahkan terkadang shopaholic selalu bingung karena orientasinya sudah ‘bercabang’. “Sebagai seorang shopaholic yang ingin mengubah gaya hidupnya, harus belajar untuk bisa membedakan dua kategori itu. Jangan sampai keduanya dijalankan karena sangat berbahaya dan menjadi candu dan sulit untuk diobati,” pungkas Indah. (ila)